Jumat, 20 Maret 2009

JUARA DUNIA FORMULA 1 KINI DITENTUKAN LEWAT JUMLAH KEMENANGAN

Regulasi Formula 1 lagi-lagi berubah. Yang terbesar, juara dunia tidak lagi ditentukan lewat total poin, melainkan total kemenangan. Lebih menarik tidak ya?


Harus diakui, Formula 1 belakangan ini luar biasa. Cabang termahal di dunia ini menyikapi krisis finansial dengan hebat. Baik FIA, FOM, maupun tim-tim peserta yang tergabung dalam FOTA tergolong kompak melakukan perubahan. Semua rela memangkas ongkos di sana-sini, meski mungkin merugikan sejumlah tim kaya. Toh tujuannya baik: Untuk mengamankan masa depan F1, memancing pertumbuhan di saat situasi duit makin sulit. Selasa lalu (17/3), makin banyak lagi perubahan diperkenalkan. Salah satu poin utamanya masih untuk memangkas ongkos masa depan. Mulai 2010 nanti, tim-tim peserta diberi dua pilihan soal biaya partisipasi. Pertama, mereka tetap seperti sekarang, melaju dan berkembang sesuai kemampuan finansial masing-masing. Kalau memilih jalur tetap, maka mereka pun menuruti aturan teknis yang tetap. Dijamin tak ada perubahan regulasi teknis hingga 2012.

Kedua, mereka menuruti aturan budget cap yang ditentukan FIA. Seluruh biaya partisipasi mereka dibatasi hingga 30 juta euro atau USD 42 juta, atau sekitar Rp 500 miliar. Itu termasuk gaji pembalap dan para petinggi tim. Kalau memilih jalur kedua ini, maka tim-tim itu harus rela menjalani audit ketat dari FIA. Tapi, mereka juga mendapat peluang meraih keuntungan, karena tetap mendapat pembagian hasil (hak siar televisi dan lain-lain) setara dengan yang lain. Belum lagi potensi meraih sponsor. Bukan hanya itu, tim-tim yang ikut budget cap juga diberi kelonggaran dalam regulasi teknis. Mobil yang mereka pakai lebih fleksibel dalam hal aerodinamika, mesin yang mereka pakai lebih fleksibel dalam hal kekuatan dan kecepatan. Secara halus, FIA memang mendorong semua tim untuk mengikuti budget cap tersebut. Max Mosley, Presiden FIA, mengatakan bahwa biaya itu sudah dihitung secara cermat. Dia menegaskan, penonton di tribun maupun televisi tidak akan bisa membedakan mana mobil "mahal" dan mana mobil "murah."

Dan kelonggaran regulasi akan membuat tim-tim budget cap itu menjadi lebih kreatif. "Keith Duckworth (pendiri perusahaan mesin legendaris Cosworth, Red) pernah bilang, seorang engineer adalah orang yang bisa melakukan sesuatu dengan biaya satu dollar, sementara seorang idiot membutuhkan biaya seratus dollar untuk melakukan hal yang sama," tutur Mosley. "Sukses akan diraih tim yang memiliki ide terbaik, bukan yang memiliki duit terbanyak," tandasnya.
Mengenai pemotongan biaya ini, mungkin banyak yang suka. Apalagi, ada niatan untuk menarik minat tim-tim baru. Mosley mengakui, upaya tim-tim untuk mengurangi ongkos layak dipuji. Tapi tetap harus ada langkah lebih ekstrem lagi untuk lebih memastikan kelangsungan masa depan.

Tapi, ada satu aturan yang mungkin bikin orang garuk-garuk kepala sebentar. Setuju mungkin iya, tidak setuju mungkin juga iya. Dan aturan ini langsung berlaku untuk musim 2009 ini juga. Yaitu tentang penentuan juara dunia. Mulai 2009, juara dunia tidak lagi ditentukan lewat total poin yang diperoleh. Melainkan lewat jumlah kemenangan. Siapa menang paling banyak, dialah juara dunianya. Kalau ada dua atau lebih pembalap punya jumlah kemenangan sama, maka gelar baru diberikan kepada pembalap dengan poin terbanyak. Kurang lebih, perubahan ini merupakan bentuk modifikasi dari sistem medali yang diajukan Bernie Ecclestone, bos komersial F1. Semula, asosiasi tim (FOTA) mengajukan perubahan sistem poin. Dari 10-8-6-5-4-3-2-1 untuk delapan besar menjadi 12-9-7-5-4-3-2-1. Ini berdasarkan survei global, dengan tujuan memberi poin ekstra bagi pemenang lomba. Namun, World Motor Sport Council di Paris kemudian lebih memilih sistem jumlah kemenangan. Sejauh ini, belum ada yang melontarkan protes keras maupun tanggapan serius. Di satu sisi, ini baik karena tidak mengguncangkan F1 di saat situasi keuangan sedang sulit. Di sisi lain, jangan-jangan sistem baru ini merupakan langkah salah yang tak sempat dikritisi. Ingat, kalau menggunakan sistem baru ini, maka juara dunia 2008 adalah Felipe Massa (Ferrari), bukan Lewis Hamilton (McLaren-Mercedes). Jadi dampaknya cukup signifikan. Kata Ecclestone, bagaimana pun sistem kemenangan terbanyak ini akan lebih menarik untuk penggemar. "Ide dasarnya adalah untuk memaksa pembalap benar-benar balapan. Mengejar kemenangan, bukan sekadar mengamankan poin," ucapnya. Bahwa hasil 2008 bisa berbeda, Ecclestone menanggapi dengan ringan. "Kalau aturan ini diterapkan tahun lalu, Hamilton pasti akan lebih memaksa untuk mengejar lebih banyak kemenangan. Ada beberapa kesempatan yang seharusnya dia kejar akhirnya tidak dia kejar," tuturnya.

Apa pendapat saya tentang sistem kemenangan ini? Terus terang, secara pribadi saya suka sistem lama. Meski pembalap tidak memaksa menang, tapi dia harus tampil taktis. Buktinya, kejuaraan 2007 dan 2008 berlangsung sangat seru. Bahkan, musim 2008 ditentukan di tikungan terakhir pada putaran terakhir. Saya selalu percaya, don't change what works. Kalau sudah bekerja dengan baik, maka jangan diutak-atik. Tapi saya ingin lihat dulu situasinya seperti apa. Siapa tahu, kalau sistem ini dianggap gagal, tahun depan bisa kembali lagi seperti dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar